Waylima Sangun Jaya

Kham Andan Jejama

Haruskah Puasa Bercinta?

Posted by apripejer pada 27 Agustus 2010


Bulan Ramadhan tidak hanya identik dengan menahan lapar dan haus, tapi juga menahan keinginan bercinta di waktu subuh hingga menjelang maghrib. Wajar saja kalau frekuensi seks jadi menurun hingga 50 persen, seperti dibuktikan oleh penelitian dari Klinik Pasutri Jakarta pada 2006.

Meski begitu, bukan berarti selama bulan puasa, suami-istri yang menjalankan ibadah Ramadhan harus kehilangan waktu bercinta. Sama halnya dengan makan dan minum, seks merupakan sebuah kebutuhan, selain sebagai ekspresi cinta. Tinggal pandai-pandainya suami-stri mengatur waktu, bukan?

Kalau kata dr Ferryal Loetan, ASC&T, SpRM, MKes, MMR, waktu yang tepat untuk bercinta di bulan puasa adalah selepas tarawih dan sebelum sahur. Pertimbangannya, menurut seksolog dari RS Persahabatan, Jakarta, ini, waktu selepas tarawih dapat digunakan karena rentang waktunya panjang, selain pasangan juga biasanya sudah selesai menunaikan semua rutinitas ibadah. Sedangkan sebelum sahur setelah tidur beberapa jam, kondisi fisik pasangan sudah segar. Agar tidak terburu waktu beduk subuh, sebaiknya pasangan bangun dua jam sebelum sahur sehingga masih tersedia waktu untuk membersihkan diri, menyiapkan hidangan, dan makan sahur.

Nah, waktu mana yang akan dipilih, tergantung kepada setiap pasangan. “Ini menyangkut aktivitas, kondisi fisik, dan waktu luang yang dimiliki,” ujar Ferryal. Pasangan yang sama-sama ada di rumah saat berbuka tentu memiliki keleluasaan lebih dalam mengatur waktu bercinta, apakah selepas tarawih ataupun sebelum sahur. Berbeda dari pasangan yang sama-sama bekerja sampai malam, lebih baik memilih waktu sebelum sahur. Pertimbangannya, ya kondisi fisik.

“Setelah beristirahat tidur di malam hari hingga beberapa jam menjelang sahur, kondisi fisik sudah kembali bugar. Seks hangat dan menggairahkan pun siap dimulai. Setelah itu, pasangan dapat melakukan mandi besar bersama, dengan air hangat pula. Kemudian menyiapkan santap sahur dan makan bersama. Menyenangkan bukan?” urai dr Ferryal.

Meski begitu, Ferryal menyerahkan sepenuhnya pemilihan waktu ini kepada pasangan. “Masing-masing pasanganlah yang paling tahu waktu terbaik untuk saling memuaskan.”

Yang pasti, pemilihan waktu sangat berdampak pada kepuasan seks. Jika waktu yang dipilih tepat, pasangan bisa saling memuaskan. Sebaliknya, pemilihan waktu yang salah berisiko seks terganggu sehingga tidak memuaskan salah satu pasangan.

(Tabloid Nakita/Saeful Imam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: